Kejadiannya tadi pagi, ketika saya bangun tidur dan selesai mengantarkan dokumen ke salah satu supervisor saya. Saya baru teringat bahwa handphone saya belum saya sentuh dan ada sebuah pesan singkat di sana.
“Terkadang seseorang harus mengobrankan ambisi pribadinya untuk mimpi yang lebih besar, lebih nyata dan lebih memberi manfaat bagi orang lain”
Saya benar-benar mengerti maksud dari pesan singkat tersebut.
Saya diam. Tak berani untuk menjawab.
Seharian ini saya habiskan di depan komputer. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang katanya biasanya ada di google. Tapi hari ini saya harus kecewa. Ya, google bukanlah kitab suci. Dia hanyalah sekumpulan data yang terindeks dengan rapi sehingga memudahkan orang-orang untuk mengambil data tersebut. Ya, data. Hanya sebatas data. Bukan realita. Sehingga mutlak sulit bagi saya untuk mencari jawaban yang membutuhkan pemahaman.
Ah, saya meracau…
Saya pernah punya mimpi yang (cukup) besar. Hanya saya tak mengerti bagaimana menceritakannya kepada semua orang. Saya tak cukup pintar untuk memilih satu dari ribuan narasi yang tersedia, menjadikannya padu dalam sebuah kumpulan narasi indah. Itu baru narasi.
ya tulisan saya yang ini abstrak. Tak ada bentuk yang jelas. Bukan narasi, tidak deskriptif dan tidak punya argumentasi yang jelas. Tapi inilah realita…