Kejadiannya tadi pagi, ketika saya bangun tidur dan selesai mengantarkan dokumen ke salah satu supervisor saya. Saya baru teringat bahwa handphone saya belum saya sentuh dan ada sebuah pesan singkat di sana.

“Terkadang seseorang harus mengobrankan ambisi pribadinya untuk mimpi yang lebih besar, lebih nyata dan lebih memberi manfaat bagi orang lain”

Saya benar-benar mengerti maksud dari pesan singkat tersebut.

Saya diam. Tak berani untuk menjawab.

Seharian ini saya habiskan di depan komputer. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang katanya biasanya ada di google. Tapi hari ini saya harus kecewa. Ya, google bukanlah kitab suci. Dia hanyalah sekumpulan data yang terindeks dengan rapi sehingga memudahkan orang-orang untuk mengambil data tersebut. Ya, data. Hanya sebatas data. Bukan realita. Sehingga mutlak sulit bagi saya untuk mencari jawaban yang membutuhkan pemahaman.

Ah, saya meracau…

Saya pernah punya mimpi yang (cukup) besar. Hanya saya tak mengerti bagaimana menceritakannya kepada semua orang. Saya tak cukup pintar untuk memilih satu dari ribuan narasi yang tersedia, menjadikannya padu dalam sebuah kumpulan narasi indah. Itu baru narasi.

ya tulisan saya yang ini abstrak. Tak ada bentuk yang jelas. Bukan narasi, tidak deskriptif dan tidak punya argumentasi yang jelas. Tapi inilah realita…

This is How I Call “5-Holy-day”

Liburan kali ini menyisakan sejuta kesan yang cukup mendalam buat saya. Bagaimana tidak, jika ternyata waktu yang identik dengan kegalauan, kesia-siaan, ketidakproduktifan dan ketidakpedulian bisa begitu bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi mereka yang sudah begitu berarti buat saya.

Liburan selama lima hari kemarin saya isi dengan mengisi pelatihan elektronika praktis di sekolah saya, MTs dan MA Zakaria. Pelatihan yang pada awalnya diniatkan untuk menjadi ekskul dan diawali dulu dengan pelatihan dasar. Sempat cemas dan khawatir dengan antusiasme peserta yang saya takut kurang tinggi. Namun seiring berjalannya waktu, saya memperoleh beberapa kepastian tentang peserta dan guess what, saya harus menangani 20 orang yang benar benar memiliki passion di bidang elektronika praktis, karena mereka memilih untuk mengikuti training ini. Bukan karena dipaksa dan bukan pula karena disuruh oleh sekolah.

Ketika amanah ini diletakkan di bahu saya, saya merasa amanah ini bukanlah sesuatu yang ringan. Di bahu saya diletakkan minat dan passion 20 orang yang merupakan adik-adik saya. Di bahu saya dialamatkan 20 karakter berbeda untuk ditempa hanya dalam waktu 5 hari untuk mengajarkan tentang elektronika praktis. Hal yang sulit memang, tapi bukan hal yang mustahil.

Akhirnya saya mencoba menyusun beberapa hal yang mungkin bisa berguna untuk anak anak tersebut. Pertama saya menyusun kurikulum. Hal yang mulai sering saya lakukan terutama setelah menjabat sebagai kepala sekolah PROKM 2011. Kurikulum yang saya susun merupakan perpaduan dari kurikulum rangkaian elektronika untuk SMP dan sedikit masukan dari guru-guru di MTs. Ditambah dengan kuesioner jadilah saya susun kurikulum sederhana yang pada intinya pelatihan tersebut meliputi : Pengelanan komponen, Pembuatan Flip Flop, Pembuatan Power Supply, Pembuatan H-Bridge, dan yang terakhir Mekanisme Gerak Robot. Dengan adanya bahan-bahan tersebut, saya pun mulai mengajar pada hari senin tanggal 2/1/2012.

2/1/2012

Pada waktu hari pertama mengajar, sejujurnya saya merasa kurang persiapan. Bukan tanpa sebab, karena saya baru diminta mengajar pada H-7 dan tentu saja karena sudah lama saya tidak memegang solder. Walaupun pada akhirnya berdatanganlah 20 anak kecil yang lucu dan menggemaskan penuh dengan semangat elektroteknik untuk belajar mengenai elektronika sangat praktis.

Saya pun mulai memperkenalkan diri, hal yang sebenarnya tidak perlu karena salah satu dari mereka adalah adik saya dan dia sudah memberitahu teman-temannya bahwa saya akan menjadi pemateri di pelatihan elektronika ini. Setelah puas dengan perkenalan diri, saya pun mulai membuka slide tentang pengenalan komponen elektronika. Satu hal yang saya lupakan adalah mereka masih kelas VII dan VIII sehingga mereka belum belajar sama sekali tentang elektronika di sekolah. Akibatnya pertanyaan demi pertanyaan pun bermunculan dan saya bahkan tidak bisa menyelesaikan keseluruhan slide. Tapi yang jelas, dari pertemuan pertama saya tahu bahwa anak-anak tersebut punya minat yang besar terhadap bidang ini. Hal ini terlihat dari semangatnya yang menggebu-gebu dan terpancar dari cara mereka menatap tulisan demi tulisan yang terpampang di papan tulis sambil mengernyitkan dahi seolah bertanya, “ini benda macam apa?”

Selain mengenalkan tentang komponen, dengan waktu yang tersisa akhirnya saya harus pula menjelaskan tentang rangkaian. Karena bagaimanapun, mereka tidak akan bisa menyusun rangkaian kalau tidak memahami tentang teorema rangkaian. Iya kan? dan hari ini pun saya tutup dengan memperkenalkan format jurnal IEEE dan menyuruh mereka untuk membuat tulisan mengenai pertemuan hari ini dengan format IEEE tersebut. Hasilnya?? Inbox saya dipenuhi sms mereka yang menanyakan tiap bagian dari jurnal tersebut. Senang sekaligus haru menjadi satu menyaksikan kesungguhan dan keseriusan mereka dala mengikuti pelatihan ini.

to be continued…


Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridai

Desember

Saya menulis di sini sambil mendengarkan lagunya “Superman is Dead - Kuat Kita Bersinar”.. Benar-benar sebuah pengingat bahwa waktu saya di sini tidak lama lagi.. Banyak hal yang harus dilakukan.. Tidak boleh sedikitpun waktu terbuang.. Banyak yang bilang semua itu pilihan, tapi saya tahu betul mana yang pilihan mana yang terpaksa memilih.. Mana yang memperbaiki dan mana yang membenarkan..

Masih ada janji yang belum terpenuhi.. Masih ada enggan yang menggelantungi.. Masih ada kelabu yang menutupi, walau segurat cahaya sudah mulai menerangi…

Saya mulai tua.. Lidah saya tak seluwes ketika saya memasuki tempat ini.. Tulang-tulang saya mulai rapuh.. Suara pun sudah mulai tak terdengar.. Sedangkan saya belum mewariskan apapun.. Padahal katanya ciri orang beriman itu setiap dia singgah di berbagai tempat, dia punya “atsar sujud” alias tanda beribadah di tempat tersebut..

Lantas, atsar sujud yang bagaimanakah yang saya ciptakan?? Sebuah kemegahan dunia berbalut perjuangan, ataukah perjuangan berselimutkan kemegahan?

Wallahua’lam

Theme of Prontera

There you are standing across the window
Staring at the bright sky on a lovely day
Wodering of going back to the past
That you know it its all too late
Just like a bird, far away you fly
And the world starts to dissapear and die
Maybe i will never see you again
Until we meet in a new day
I remember how your lips feel like wine
And how you’re always by my side
In my sleep we meet in tears
You lie within your dreams
You’re always here to cheer me up
You’re always there when i’m down
Adjust what lies in me
Just like you used to be
But i’ve been waiting only to see dreams
Maybe in time
I will forget everything
Nggak tau kenapa dari dulu gak bisa lepas dari game yang namanya RO.. walaupun udah gak senyandu dulu, tapi tetep aja.. Dan setelah nyari-nyari, nemu juga lyrics theme songnya

it’s gonna be rough way.. mundur ke belakang menjadi pilihan yang sangat menyenangkan.. tapi jalan yang telah dipilih oleh pendahulu menjanjikan kemenangan yang hakiki.. berubah atau mati.. bergerak atau tergantikan

Sudah lama saya tidak meneriakkan lagu lagu kebanggaan HME.. banyak dan beragam, bisa disesuaikan dengan berbagai kondisi.. ketika di atas angin maupun diterpa badai, selalu lagu lagu ini bisa menyesuaikan dengan keadaan.. pertanyaannya: kapan saya diarak dengan lagu lagu HME…

Mencoba Menjelaskan Hal Yang Rumit Menjadi Indah..

Sekarang ini saya sedang menggarap TA, judulnya “Cost Benefit Analysis Digital TV Migration DVBT vs DVB T2 in Indonesia”. Nah, saya yang gak ngerti apa-apa tentang DVB ini terjebak di sebuah tema yang membuat saya bingung. Kebingungan yang pertama adalah ketika saya harus membuat resume mengenai DVB-T dan DVB-T2. Gugling sana sini, nyari nyari siapa tau ada referensi yang sumbernya bahasa Indonesia. Kebingungan yang kedua adalah saya harus menyelesaikan penelitiannya sebelum desember yang artinya cuma 4 bulan. Dan yang ketiga saya harus udah buat jurnalnya bulan ini, yang artinya 5 hari lagi. Meeen….

Oiya, biar gak bingung mari kita bercerita tentang TV di Indonesia. Jadi TV di Indonesia itu sekarang masih TV analog. CMIIW. Nah, ada yang punya usulan untuk menerapkan suatu kebijakan gimana kalau di Indonesia diadakan migrasi dari TV analog ke TV digital. Nah, banyak banget penelitian yang ngebahas tentang migrasi ini. Masalahnya, sekarang orang-orang udah terlanjur nyaman dengan TV analog ini. Padahal kalau tau gimana serunya si TV digital ini, mungkin orang-orang bakalan milih untuk migrasi. Selain faktor si orang-orangnya (konsumen), keribetan juga dialami oleh sang pembuat kebijakan. Sebuah kebijakan seharusnya dibuat untuk memberikan keuntungan, terutama pada pembuat kebijakan. Keuntungan tersebut bisa bersifat politis maupun materi. Naah, kerjaan saya ini sebenarnya simpel. Ngeliat mana yang lebih ngasih keuntungan buat sang pembuat kebijakan ini. Migrasi dari TV analog ke TV digital dengan teknologi DVB T, atau teknologi DVB T2.

DVB T maupun DVB T2 sebenarnya hanya sebuah istilah untuk menyatakan suatu teknologi yang digunakan di TV digital. Perbedaan keduanya terutama pada kapasitasnya. Kalau DVB T bisa menampung sampai 19.9 Mbps, maka DVB T2 bisa menampung sampai 37 Mbps. Bahkan ada penelitian yang menyebutkan kalau kapasitas DVB T2 tersebut bisa mencapai 40-an Mbps.

Nah, kalau dilihat sekilas, kita bisa aja langsung bilang, “yaudah, pake DVB T2 aja. Kan kapasitasnya lebih besar”. Ya kalau diliat gitu doang langsung bisa ambil kesimpulan mah gausah dijadiin TA atuh. :)

to be continued… 

Saya gak ngerti.. kuliah semester tujuh itu seharusnya masa dimana semua orang sudah mulai fokus dengan apa yang akan dia kerjakan di semester delapan nanti.. tapi semuanya terasa begitu cepat buat saya.. melewati hari demi hari dengan langkah yang pasti, tapi dalam hati tekad saya belum cukup kuat. 

Dihantam kuis mendadak di kuliah pertama.. skip beberapa kuliah karena lupa jadwal.. skip beberapa amanah karena *lagi lagi* lupa.. boleh gak sih seorang mahasiswa tingkat akhir bertingkah seperti itu? *sigh

Prematur, mungkin itu yang sedang terjadi dalam langkah hidup saya. Walaupun tau bahwa saya masih harus banyak belajar, tapi saya seolah-olah melakukan langkah nista ketika saya tetap berusaha menerima tugas akhir yang harus diselesaikan dalam waktu 4 bulan dan jurnal ilmiahnya harus diselesaikan dalam waktu sebulan.

Padahal, masih banyak amanah yang belum terselesaikan, masih banyak tanggung jawab yang harus dituntaskan…

Kalau kata sahabat saya, belum sempurna.. belum paripurna…

jangan pernah berhenti berusaha dalam berubah dan mengubah diri.. karena bisa jadi saat tua nanti kita menyesal.. bukankah seseorang itu lebih terbiasa menyesali hal yang tidak dia lakukan? jadi berubah atau mati.. bergerak atau tergantikan…