“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”
– Pramoedya Ananta Toer–
Berangkat dari ungkapan Pram di atas, saya berusaha menuliskan apa yang ingin saya berikan untuk adik-adik tercinta, melengkapi tulisan teman saya sebelumnya, Ika Yul Pratiwi, supaya kelak paham untuk apa saya belajar di prodi saya, Teknik Telekomunikasi ITB.
Saya mungkin seperti kebanyakan teman-teman, satu dari sekian banyak orang yang sering mengalami kebingungan : “minat saya di bidang mana?” Mungkin juga saya adalah orang yang percaya, bahwa minat tidak selalu harus muncul dari dalam diri sendiri. Minat dan bakat bisa dibentuk oleh lingkungan sekitar kita. Dan itulah yang mendasari saya ketika saya memilih jurusan yang saya jalani sekarang. Percayalah, saya memilih prodi Teknik Telekomunikasi hanya lima menit sebelum pemilihan jurusan ditutup dan saya sampai sekarang tidak menyesal dengan keputusan yang saya ambil tersebut.
Sekarang sebenarnya teknik telekomunikasi itu apa? Secara sederhana (definitif) teknik telekomunikasi itu adalah rekayasa teknologi untuk memudahkan penggunanya dalam menyelenggarakan komunikasi jarak jauh. Nah, karena kita bicara komunikasi, maka kita bicara 3 hal. Pesan, Orang yang menyampaikan pesan, dan Orang yang menerima pesan. Dunia Teknik Telekomunikasi bicara tentang pesan dan media yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut.
Lalu kenapa penyampaian pesan tersebut menjadi sangat penting? Dalam era globalisasi sekarang ini, media menjadi alat untuk mengungkapkan ide. Semakin banyak ide yang teman-teman miliki, semakin wajib bagi teman-teman untuk menguasai media komunikasi. Semakin banyak media komunikasi, semakin dibutuhkan pula orang yang bisa mengefektifkan kerja si media tersebut (agar menarik dilihat, agar pesan yang dimaksud bisa sampai dengan benar, agar pesan yang disampaikan bisa banyak tapi tidak ada error dalam penyampaian pesan). Dan siapa lagi yang mau membuat hal tersebut kalau bukan Sarjana Teknik Telekomunikasi?
Berbicara tentang teknik telekomunikasi, saya berusaha membuka pandangan orang-orang yang bertanya, “Lo ntar kerja ngapain sih, Mar?” Sebagian orang berpikir bahwa kuliah di teknik Telekomunikasi akan menghabiskan sisa hidupnya di, sebut saja, operator telekomunikasi (semacam provider HP kita gitu :D), atau vendor (yang pembuatan modem, HP, dll). Wah, pendapat itu tidak sepenuhnya salah. Hanya saja terlalu sempit kalau memandang Teknik Telekomunikasi sebatas operator dan vendor. Masih banyak bidang pekerjaan yang membutuhkan orang telkom. Sebut saja ahli trafik (jumlahnya di Indonesia masih sangat sedikit) yang dapat berperan dalam mengurangi jumlah antrian (queueing) di Indonesia. Atau mungkin ahli regulasi telekomunikasi. Bisa juga menjadi penyedia layanan telekomunikasi untuk event-event besar yang diselenggarakan hanya pada waktu-waktu tertentu (kalo yang ini biasanya jadi konsultan). Atau buat yang mau masuk oil and gas company juga bisa (kayak kakak kelas saya, ET 07.. selamat ya kak). Atau mau jadi ahli regulasi telekomunikasi dan nantinya membuat kebijakan telekomunikasi yang lebih bijaksana untuk negeri ini.
Selain prospek kerja, kita juga bisa bicara masalah S2. Di luar negeri sendiri, untuk tiap-tiap negara terdapat fokus yang berbeda-beda untuk dunia teknik telekomunikasi ini, yang intinya lebih ke arah fokus si teknik telekomunikasi ini. Ada yang langsung membuat jurusan “Convergent Network”, “Signal Processing”, “Electronics Telecommunication”, dan jurusan-jurusan lainnya. Dan bidang-bidang tersebut, secara general, akan kita tahu ketika kita S1 di Teknik Telekomunikasi. Jadi buat yang mau S2 dan masih bingung S2 nanti mau ambil apa, bisa meraba-raba dulu waktu S1, sebenarnya jurusan-jurusan yang namanya aneh-aneh itu belajarnya ngapain.
Sebelum lebih jauh, buat teman-teman yang membutuhkan beasiswa, tidak perlu khawatir. Biasanya di prodi telkom ini ada beasiswa yang menunjang kehidupan akademik teman-teman. Mulai dari beasiswa ITB pada umumnya (PPA dan beasiswa ekonomi) sampai beasiswa dari perusahaan-perusahaan. Jadi tidak perlu khawatir. Mengenai caranya, teman-teman bisa langsung memperoleh infonya dari mading-mading maupun dari milis himpunan.
Nah, sekarang buat yang ingin bertanya kuliah teknik telekomunikasi itu isinya apa aja, saya coba jawab ya..
- Tingkat satu seperti biasa melewati TPB.. di Tahap paling Bahagia ini kita belajar kalkulus, kimia, fisika, konsep pengembangan ilmu pengetahuan, sistem alam dan semesta, olahraga, tata tulis karya ilmiah, Pengenalan Teknologi Informasi - A (dulu namanya Dasar Pemrograman) dan Dasar Rangkaian Elektrik. Untuk program studi teknik telekomunikasi, saya sangat menyarankan untuk sangat serius dalam dua mata kuliah terakhir, dan serius di mata kuliah sisanya :D. Kenapa? Dua mata kuliah terakhir akan banyak ditekuni oleh mereka yang kuliah di telkom, sedangkan mata kuliah lainnya akan menunjang kuliah-kuliah di telkom nantinya. CMIIW.
- Tingkat dua, biasanya prodi telkom masih “memiliki teman”, yaitu anak-anak teknik elektro dan teknik tenaga listrik. Mata kuliahnya tidak jauh berbeda. Yang membedakan adalah mulai adanya satu kuliah pengenalan teknik telekomunikasi tentang jaringan, namanya Jaringan Telekomunikasi. Di kuliah ini teman-teman akan mulai banyak berkenalan dengan istilah telekomunikasi seperti modulasi, bit rate, dan istilah-istilah menyenangkan lainnya :)
- Tingkat tiga, teman-teman akan belajar tentang dua lab yang ada di prodi telkom. Lab yang satu adalah lab radar, diwakili dengan mata kuliah Signal Processing, Communication System, Electronics in Communication, dan Antenna, sedangkan untuk lab telematika diwakili oleh mata kuliah Traffic Engineering, Sistem Komunikasi Optik, dan Komunikasi Data. Sebenarnya, di tingkat 3 inilah teman-teman akan mengetahui sebenarnya apa yang dikerjakan oleh sarjana telekomunikasi ini nantinya. Hal ini juga diperkuat dengan Kerja Praktek yang akan teman-teman jalani (biasanya) saat kenaikan dari tingkat 3 ke tingkat 4. Tempatnya bermacam-macam. Mulai dari operator (indosat, telkomsel, xl, Telkom, dll), vendor (huawei, ericson, dll), Bank, Stasiun TV, GMF (pembuatan sistem komunikasi pesawat), lembaga penelitian LIPI, sampai Microsoft di Singapura.
- Dan yang terakhir, di tingkat 4 biasanya teman-teman sudah memilih keahlian masing-masing dan banyak mata kuliah pilihan yang bisa teman-teman ambil. Saya sendiri lebih mengambil ke arah policy-economics telecommunication dan saya mengambil minor managemen di SBM.
Naah, buat yang ingin bertanya lebih lanjut, teman-teman bisa follow akun twitter @sahabattelkom, atau langsung bertanya kepada kakak-kakak di program studi teknik telekomunikasi, biasanya kita pada mangkal di Ruang Residensi S1 telematika, atau di Telecom Cozy Corner, letaknya di labtek 8 lantai 4.
Oiya, ini sedikit spoiler tentang bagaimana menyenangkannya kuliah di teknik telekomunikasi ITB.. Ya, 5 orang (sayang 1 orang tidak mau ikut) dari 60 orang di angkatan saya, berarti 1:12.. besar lah untuk kemungkinan jalan-jalan gratis ke China
http://us.detikinet.com/read/2012/03/19/093625/1870572/328/mahasiwa-itb-curi-ilmu-huawei-di-china
PS : Tulisan ini juga dipost di masukitb.com
Hari ini, Kamis 22 Maret 2012 saya mengalami kejadian luar biasa. Walaupun tokoh dalam cerita ini saya tidak tahu namanya, tapi tak bisa dipungkiri bahwa dia menjadi orang yang menginspirasi saya, menyadarkan saya apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini.
Jadi kejadiannya saya sedang ingin mengambil hasil cetakan baligho, spanduk, banner dan backdrop di Langit Biru, tempat percetakan yang terletak di sebelah rumah sakit ginjal di Jalan Tubagus Ismail. Setelah menyerahkan tanda terima kepada mas-mas yang jaga di sana, terjadilah dialog antara kami berdua.
Mas-mas (M) : “Mas mahasiswa kan? Kok nggak ikut demo kenaikan BBM mas?”
Umar (U) : “Wah nggak deh mas.. Saya bingung mau demo gimana.. Saya nggak ngerti kenapa harus didemo. Hitung-hitungan harga minyak yang sebenarnya aja belum tau masa udah mau demo-demo aja.”
M : “Iya ya mas. Saya bukannya pro sama pemerintah sih mas. Tapi masa harga minyak dunia naik tapi harga BBM kita nggak naik. Rugi dong ntar Indonesia”
Sampai sini, saya terdiam. Ternyata masih ada kalangan masyarakat sipil yang sebegitu memikirkan untung rugi yang diperoleh untuk Indonesia.
M : “Sebenarnya ya mas, saya yakin sih yang dilakukan sama pemerintah buat naikin harga BBM itu bener”
U : “Nggak cuma BBM mas, ntar TDL juga kan?”
M : “Nah itu mas yang saya nggak senengnya. Udah BBM naik, kenapa TDL naik juga? Barengan lagi”
U : “Iya ya mas. Kan naiknya awal april tuh. Yang saya takutin sih pas Mei nya mas. Taun lalu yang gak ada apa-apa aja demonya udah segitunya sampe nutup jalan tol. Taun ini gimana ya?”
M : “Gini sih mas. Kalau menurut saya, demo itu nggak nyelesein masalah. Mau ada demo mau nggak ada demo, tetep aja harga BBM itu harus naik. Kan gimana juga kita gak mau Indonesia rugi”
U : “Wah terus gimana ya mas. Emang sebenarnya rakyat tuh pengennya gimana ya?”
M : “Kalau kata saya, sebenarnya wajar sih mas ada kenaikan TDL, BBM, itu tuh wajar. Tapi sebenarnya demo yang anarkis itu karena rakyat udah jenuh ngeliat ketidakadilan di Indonesia. Karena ngeliat yang korupsi dibebaskan tapi yang nyuri sendal digebukin. Akhirnya kebetulan aja ada kejadian BBM sama TDL naik, jadinya pelampiasan atas ketidakadilan tersebut.”
Mungkin apa yang saya tahu selama ini hanyalah fakta. Faktanya BBM naik. Faktanya TDL naik. Faktanya uang sekolah naik. Semuanya hanya fakta..
Tapi mas-mas tersebut mengungkap tentang realita. Apa yang dia rasakan, sehingga dia mampu menerjemahkan sendiri apa permasalahan yang ada di Indonesia sebenarnya. TIDAK TEGAKNYA HUKUM DI INDONESIA. Tidak perlu dengan kajian yang berat dan panjang, tapi cukup dengan merasakan.
Ah, mas.. Mungkin saya terlalu lama berada dalam lingkup kampus. Mungkin menara gadingnya terlalu tinggi sehingga kami terbutakan oleh agungnya pola pikir yang kami anggap maha. Padahal, mas, kau lebih bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya kami cari.
Terakhir, mas-mas tersebut berpesan : “Sekarang ini semua info mudah diakses. Jadi jangan pikir kalau rakyat percaya-percaya aja apa kata media. Kita juga bisa kalau sekedar nyari di internet. Tapi ya kita cuma tau dan sakit hati aja. Gak bisa ngapa-ngapain.”
Dari pesan tersebut, tersirat sebuah harapan akan adanya generasi yang meneruskan suara mereka, menjadi bagian dari mereka untuk sekedar menyuarakan aspirasi mereka.
NB : Saya sangat merekomendasikan setiap mahasiswa ITB yang mencetak baliho, poster atau banner di Langit Biru (yang ternyata jumlahnya banyak sekali) meluangkan sedikit waktunya untuk mengobrol tentang isu-isu bangsa yang sedang berkembang.
NB lagi : Mungkin pembicaraan saya gak tepat seperti itu, tapi intinya kontennya seperti itu :)
Serumpun padi tumbuh di sawah
Hijau menguning daunnya
Tumbuh di sawah penuh berlumpur
Di pangkuan ibu pertiwi
Serumpun jiwa sunyi
Hidup nyaris tak abadi
Serumpun padi mengandung janji
Harapan ibu pertiwi
Kulihat Ibu Pertiwi..
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Emas intan yang kau kenang
Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini Ibu sedang lara
Merintih dan berdoa
Dedicated for orang yang belum tau lagu ini, semoga bisa menjadi inspirasi hari ini, esok dan selamanya :)
Hampir semua orang punya cerita tentang major (jurusan) yang ditekuninya di universitas. Mulai dari kisahnya yang salah major, minatnya yang tinggi di major tersebut, sampai proses belajar di major tersebut. Tidak heran karena memang kebanggaan yang tinggi akan ada di majornya. Terlebih di kampus tempat saya belajar, ITB, banyak sekali kebanggaan akan major dikarenakan hampir di tiap major terdapat himpunan sendiri dengan kulturnya yang beragam.
Tapi saya sekarang tidak akan bercerita tentang major saya, karena seperti yang telah saya tuliskan di atas, sudah banyak yang bercerita tentang majornya. Tapi akan menjadi menarik jika saya, yang memiliki major teknik telekomunikasi bercerita tentang program minor yang ditekuninya.
Sebelum beranjak lebih jauh, izinkan saya bercerita tentang program minor tersebut. Program minor bisa dibilang seperti fokus kedua dalam bangku perkuliahan yang kita ikuti. Tidak seperti mata kuliah luar yang kita bebas mengambil mata kuliah apa saja, program minor ini menyaratkan kompetensi tertentu sehingga mata kuliah yang diambil pun tidak bisa sembarangan. Dan untuk kasus saya, saya mengambil minor manajemen dengan 5 mata kuliah (18 SKS) yaitu TOM, FA, DMN, Leadership dan Marketing.
Perbandingan Pengajaran
Siapapun tak ada yang suka dibandingkan. Namun menurut saya, jika tidak ada perbandingan, akan sulit bagi kita menilai suatu hal. Langsung saja ke opini pribadi saya tentang pengajaran di SBM ITB : dosennya luar biasa. Hal ini merupakan dambaan tiap mahasiswa yang mengalami proses pembelajaran. Bagaimana tidak, ketika di tiap-tiap jurusan ada saja dosen yang pernah tidak masuk kuliah baik dengan alasan sakit misalnya, di SBM dosen selalu hadir, setidaknya selama saya kuliah di SBM. Sekalipun dosennya tidak hadir, kabarnya akan ada orang yang menggantikan. Memang hal ini tidak bisa saya katakan lebih baik atau lebih buruk. Akan tetapi, jelas ada pembelajaran berbeda yang dialami teman-teman saya di SBM. Biar bagaimanapun, diajari oleh yang lebih mengerti akan memberi dampak yang berbeda dibandingkan dengan belajar sendiri kan?
Selain dosennya yang selalu hadir; hal ini berdampak pada kedispilinan jam belajar yang semestinya; pembelajaran di SBM juga tidak sebatas pengajaran di ruang auditorium. Pembelajaran yang berkesan buat saya justru ketika di kelas kecil; kelas tutorial; dimana di kelas ini saya akan belajar bersama pembimbing (tutor) baik hati yang dengan sabar akan menjawab apapun yang kita tanyakan, terlepas jawaban tersebut dijawab saat itu juga atau tidak. Tapi paling tidak, dengan metode pembelajaran seperti itu, saya memperoleh banyak kemudahan dalam memahami mata kuliah yang saya tidak tahu asal muasalnya dari mana. Dengan metode pembelajaran tersebut, saya dapat belajar tentang pola pikir seorang manajer, yang tidak sama dengan pola pikir seorang engineer.
Lantas?
Pembelajaran berbeda akan menghasilkan output yang berbeda. Saya sangat memahami hal tersebut. Namun hal tersebut tidak menjadikan kita menjadi orang yang benar-benar berbeda. Ketika ada banyak kesamaan, kenapa justru ada orang-orang yang menonjolkan perbedaan? Bukannya memberikan kolaborasi.
Banyak teman yang saya kenal dari SBM ITB. Misalnya saja anak-anak kelas 2C, 2E dan 1D TA 2010/2011. Dengan pola pikir saya yang berbeda, mereka sangat dewasa dan mampu membuat orang lain merasa nyaman dengan dunia yang sama sekali berbeda. Mereka memiliki etika yang luar biasa, terlepas kecelakaan-kecelakaan kecil (baca : keusilan) yang terjadi selama saya kuliah di kelas-kelas tersebut.
Selain di bidang akademik, saya juga terkagum dengan anak-anak SBM ITB yang saya kenal dari kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Sebut saja Dana (Taplok PROKM 2009, Pendiklat INKM 2010, Sekjen PROKM 2011), Dita-Buser-Cikos-Disti (Taplok PROKM 2009, Pendiklat INKM 2010), Dipil (Keamanan INKM 2010, Tadis PROKM 2011), Rike (Taplok INKM 2010, Tadis PROKM 2011). Di sela sela kesibukan kuliah (yang menurut saya lebih heboh dari pada major saya), mereka mampu memanage waktu dan emosi sehingga permasalahan kuliah jarang sekali terdengar di kegiatan keorganisasian dan saya yakin masalah organisasi akan jarang mengganggu kegiatan akademik mereka.
Namun beberapa hari yang lalu, entah karena hanya satu oknum atau memang dia adalah cerminan anak SBM ITB di angkatannya, saya merasa pesimis dengan nama-nama besar yang lahir dari proses pendidikan yang berbeda tersebut. Yah, sebut saja menggunakan media elektronik untuk melakukan kampanye yang tidak senonoh. Buat saya, hal tersebut tidak etis dilakukan oleh orang yang dewasa, yang memperoleh pendidikan luar biasa. Entahlah, ini hanya pendapat pribadi saya.
Oiya, ini saya coba sertakan buktinya ya, orang yang menganjurkan untuk tidak memilih calon yang saya usung karena dia lupa menyapa TPB SBM pada hearing TPB. Padahal saat itu sang calon sudah meminta maaf dan menjelaskan mengapa dia tidak memanggil SBM dan setelah diingatkan akhirnya dia menyapa anak SBM. Namun.. ah.. menurut saya tindakan ini mencerminkan ketidak dewasaan sebagian kecil anak SBM dan dapat mencoreng nama baik sebagian besar anak SBM yang telah menorehkan prestasi di ITB.


Ini bagian yang saya sensor untuk kebaikan orang itu sendiri.. yang keberatan silahkan ngomong sama saya.
FYI : yang dateng gak lebih dari 5 orang seinget saya, tapi kenapa yang komen banyak banget ya? :)
untuk apa saya berdiri, duduk dan terlentang.. memperjuangkan sesuatu yang mungkin bukan pemikiran saya.. hanya berbekal nilai yang saya pegang sejak lama.. integritas, totalitas dan loyalitas.. namun kepada siapa semua itu disandarkan?
Kejadiannya tadi pagi, ketika saya bangun tidur dan selesai mengantarkan dokumen ke salah satu supervisor saya. Saya baru teringat bahwa handphone saya belum saya sentuh dan ada sebuah pesan singkat di sana.
“Terkadang seseorang harus mengobrankan ambisi pribadinya untuk mimpi yang lebih besar, lebih nyata dan lebih memberi manfaat bagi orang lain”
Saya benar-benar mengerti maksud dari pesan singkat tersebut.
Saya diam. Tak berani untuk menjawab.
Seharian ini saya habiskan di depan komputer. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang katanya biasanya ada di google. Tapi hari ini saya harus kecewa. Ya, google bukanlah kitab suci. Dia hanyalah sekumpulan data yang terindeks dengan rapi sehingga memudahkan orang-orang untuk mengambil data tersebut. Ya, data. Hanya sebatas data. Bukan realita. Sehingga mutlak sulit bagi saya untuk mencari jawaban yang membutuhkan pemahaman.
Ah, saya meracau…
Saya pernah punya mimpi yang (cukup) besar. Hanya saya tak mengerti bagaimana menceritakannya kepada semua orang. Saya tak cukup pintar untuk memilih satu dari ribuan narasi yang tersedia, menjadikannya padu dalam sebuah kumpulan narasi indah. Itu baru narasi.
ya tulisan saya yang ini abstrak. Tak ada bentuk yang jelas. Bukan narasi, tidak deskriptif dan tidak punya argumentasi yang jelas. Tapi inilah realita…
Liburan kali ini menyisakan sejuta kesan yang cukup mendalam buat saya. Bagaimana tidak, jika ternyata waktu yang identik dengan kegalauan, kesia-siaan, ketidakproduktifan dan ketidakpedulian bisa begitu bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi mereka yang sudah begitu berarti buat saya.
Liburan selama lima hari kemarin saya isi dengan mengisi pelatihan elektronika praktis di sekolah saya, MTs dan MA Zakaria. Pelatihan yang pada awalnya diniatkan untuk menjadi ekskul dan diawali dulu dengan pelatihan dasar. Sempat cemas dan khawatir dengan antusiasme peserta yang saya takut kurang tinggi. Namun seiring berjalannya waktu, saya memperoleh beberapa kepastian tentang peserta dan guess what, saya harus menangani 20 orang yang benar benar memiliki passion di bidang elektronika praktis, karena mereka memilih untuk mengikuti training ini. Bukan karena dipaksa dan bukan pula karena disuruh oleh sekolah.
Ketika amanah ini diletakkan di bahu saya, saya merasa amanah ini bukanlah sesuatu yang ringan. Di bahu saya diletakkan minat dan passion 20 orang yang merupakan adik-adik saya. Di bahu saya dialamatkan 20 karakter berbeda untuk ditempa hanya dalam waktu 5 hari untuk mengajarkan tentang elektronika praktis. Hal yang sulit memang, tapi bukan hal yang mustahil.
Akhirnya saya mencoba menyusun beberapa hal yang mungkin bisa berguna untuk anak anak tersebut. Pertama saya menyusun kurikulum. Hal yang mulai sering saya lakukan terutama setelah menjabat sebagai kepala sekolah PROKM 2011. Kurikulum yang saya susun merupakan perpaduan dari kurikulum rangkaian elektronika untuk SMP dan sedikit masukan dari guru-guru di MTs. Ditambah dengan kuesioner jadilah saya susun kurikulum sederhana yang pada intinya pelatihan tersebut meliputi : Pengelanan komponen, Pembuatan Flip Flop, Pembuatan Power Supply, Pembuatan H-Bridge, dan yang terakhir Mekanisme Gerak Robot. Dengan adanya bahan-bahan tersebut, saya pun mulai mengajar pada hari senin tanggal 2/1/2012.
2/1/2012
Pada waktu hari pertama mengajar, sejujurnya saya merasa kurang persiapan. Bukan tanpa sebab, karena saya baru diminta mengajar pada H-7 dan tentu saja karena sudah lama saya tidak memegang solder. Walaupun pada akhirnya berdatanganlah 20 anak kecil yang lucu dan menggemaskan penuh dengan semangat elektroteknik untuk belajar mengenai elektronika sangat praktis.
Saya pun mulai memperkenalkan diri, hal yang sebenarnya tidak perlu karena salah satu dari mereka adalah adik saya dan dia sudah memberitahu teman-temannya bahwa saya akan menjadi pemateri di pelatihan elektronika ini. Setelah puas dengan perkenalan diri, saya pun mulai membuka slide tentang pengenalan komponen elektronika. Satu hal yang saya lupakan adalah mereka masih kelas VII dan VIII sehingga mereka belum belajar sama sekali tentang elektronika di sekolah. Akibatnya pertanyaan demi pertanyaan pun bermunculan dan saya bahkan tidak bisa menyelesaikan keseluruhan slide. Tapi yang jelas, dari pertemuan pertama saya tahu bahwa anak-anak tersebut punya minat yang besar terhadap bidang ini. Hal ini terlihat dari semangatnya yang menggebu-gebu dan terpancar dari cara mereka menatap tulisan demi tulisan yang terpampang di papan tulis sambil mengernyitkan dahi seolah bertanya, “ini benda macam apa?”
Selain mengenalkan tentang komponen, dengan waktu yang tersisa akhirnya saya harus pula menjelaskan tentang rangkaian. Karena bagaimanapun, mereka tidak akan bisa menyusun rangkaian kalau tidak memahami tentang teorema rangkaian. Iya kan? dan hari ini pun saya tutup dengan memperkenalkan format jurnal IEEE dan menyuruh mereka untuk membuat tulisan mengenai pertemuan hari ini dengan format IEEE tersebut. Hasilnya?? Inbox saya dipenuhi sms mereka yang menanyakan tiap bagian dari jurnal tersebut. Senang sekaligus haru menjadi satu menyaksikan kesungguhan dan keseriusan mereka dala mengikuti pelatihan ini.
to be continued…
Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridai
Saya menulis di sini sambil mendengarkan lagunya “Superman is Dead - Kuat Kita Bersinar”.. Benar-benar sebuah pengingat bahwa waktu saya di sini tidak lama lagi.. Banyak hal yang harus dilakukan.. Tidak boleh sedikitpun waktu terbuang.. Banyak yang bilang semua itu pilihan, tapi saya tahu betul mana yang pilihan mana yang terpaksa memilih.. Mana yang memperbaiki dan mana yang membenarkan..
Masih ada janji yang belum terpenuhi.. Masih ada enggan yang menggelantungi.. Masih ada kelabu yang menutupi, walau segurat cahaya sudah mulai menerangi…
Saya mulai tua.. Lidah saya tak seluwes ketika saya memasuki tempat ini.. Tulang-tulang saya mulai rapuh.. Suara pun sudah mulai tak terdengar.. Sedangkan saya belum mewariskan apapun.. Padahal katanya ciri orang beriman itu setiap dia singgah di berbagai tempat, dia punya “atsar sujud” alias tanda beribadah di tempat tersebut..
Lantas, atsar sujud yang bagaimanakah yang saya ciptakan?? Sebuah kemegahan dunia berbalut perjuangan, ataukah perjuangan berselimutkan kemegahan?
Wallahua’lam